(0342) 815208

info@smkkademangan.sch.id

Pengumuman

Alumni

E-Learning

Mitra DuDi

BKK

Kurikulum

MENGAMBIL TELADAN SEMANGAT BERBAKTI DARI KAK RODI

Selamat Jalan Kak Rodi
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.. Telah
berpulang salah satu staf pengajar kebanggaan SMKN 1 Kademangan, Drs. H.M.
Isnaeni Rodi, M.Pd pada Senin sore, 23 Desember 2019 dalam usia 51 tahun.
Selain mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, almarhum menjabat sebagai
Kepala Perpustakaan SMKN 1 Kademangan, seorang pegiat literasi, serta dikenal
sebagai pelatih Gerakan Pramuka dengan sederet prestasi dan karya tulis yang
tersebar di beberapa surat kabar dan jurnal pendidikan.
Meski dalam kondisi
kesehatan yang kurang baik, Kak Rodi selalu berusaha menjalankan tugasnya
dengan penuh dedikasi. Berikut ini satu artikel yang pernah beliau tulis pada
tahun 2012 tentang kepramukaan, karakter yang tertanam kuat dan terbaca dalam
keseharian serta semangat beliau yang pantang menyerah.
AYO  MEMANDU
Oleh: Drs. M. Isnaeni Rodi, M.Pd
SMKN 1 Kademangan
Blitar
Disanalah
aku berdiri, jadi pandu ibuku
Bangunlah
jiwanya, bangunlah badannya (WR Soepratman)
          Pramuka  bakal menjadi ekstrakurikuler wajib siswa,
terutama SD dan SMP mulai tahun 2013 (Kompas
21/11
).  Menurut Mendikbud M. Nuh, Pramuka dapat mendukung pembelajaran yang menyeimbangkan penguasaan
pengetahuan, keterampilan, dan karakter siswa. Pramuka diyakini dapat membentuk
karakter siswa karena kegiatannya memiliki nilai kepemimpinan, kebersamaan, sosial,
dan kemandirian. Selain itu dasar dan legalitasnya telah ada selain Keppres
Nomor 231 tahun 1961, adalah UU No. 12 
tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Pramuka tidak sekedar formalitas,
semisal memakai baju pramuka saja.  Substansi
pendidikan  Pramuka harus yang diutamakan
melalui aktivitas, bukan teori. Para guru akan dibina dan mendapat kredit nilai
jam mengajar.  Dana diperoleh dari BOS,
juga dari Kemenpora dan Pemda.
Pendidikan Karakter
            Pendidikan pramuka adalah pendidikan nilai-nilai yang
disampaikan dengan metode kepramukaan (permainan di alam terbuka yang menantang
dan menyenangkan) yang dilakukan gudep yang dapat didirikan di sekolah atau
komunitas. Hingga kini (2012) menurut Azrul Azwar KaKwarnas, jumlah gudep di sekolah
mencapai lebih 320.000 dan anggota mencapai 23.542.418 (tahun 1998) dan turun
menjadi 20 juta.

            Untuk mencapai pendidikan karakter yaitu membentuk kader
bangsa yang beriman, bertaqwa, bermoral Pancasila dan berwawasan ilmu
pengetahuan dan teknologi maka tujuan pendidikan Pramuka adalah sikap perilaku
positif, menguasai keterampilan dan kecakapan serta memiliki kecerdasan  emosional, sehingga menjadi manusia yang
berkepribadian Indonesia, yang percaya kemampuan  sendiri, sanggup dan mampu membangun diri
sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan masyarakat,
bangsa dan negara.

            Menurut Ralph Waldo Emerson, karakter sejatinya ujian
peradaban, bukan sensus, maupun ukuran kota, maupun tanaman “tidak”, tapi warga
negara yang mau berubah, keluar dari kebiasaan. Sedangkan ukuran manusia
berkarakter menurut Baron Thomas Babington McCauley adalah ia tahu apa yang
harus ia lakukan, saat ia tahu sesuatu itu tidak pernah dilakukan sebelumnya.

            Untuk mencapai karakter yang dimaksud, Pramuka memiliki
Metode yang merupakan cara belajar progresif melalui: (1) pengenalan kode
kehormatan, (2) belajar sambil melakukan, (3) sistem berkelompok, (4) kegiatan
yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan
perkembangan rohani dan jasmani peserta didik, (5) kegiatan di alam terbuka,
(6) sistem tanda kecakapan, (7) sistem satuan terpisah untuk putera dan puteri,
dan (8) sistem among.
Hakekat Pendidikan Pramuka
            Hakekat Pramuka adalah pendidikan untuk kaum muda yang
bersifat sukarela, non politik, dan bebas yang menggunakan pendidikan diri
secara progresif, berlandaskan sistem nilai yaitu Kode Kehormatan Pramuka yang
berupa Tri Satya dan Dasa Darma. Hal ini telah tertuang juga dalam  the
International Commission on education for twenty-first Century (UNESCO)
mengenai
4 pilar pendidikan yaitu: (1) belajar mengetahui (learning to know) yaitu belajar untuk belajar, agar dapat memanfaatkan peluang pendidikan
sepanjang hayat agar memiliki pengetahuan untuk dapat bekerja secara mendalam
dalam banyak hal, (2) belajar berbuat (learning
to do)
  yaitu  memiliki keterampilan hidup yang luas
termasuk hubungan antarpribadi dan antarkelompok, (3) belajar hidup bersama (learning to live together) untuk
menumbuhkaan pemahaman pada orang lain, sehingga saling menghargai dan saling
ketergantungan, juga dilakukan keterampilan kerja kelompok agar terhindar dari
pertentangan-pertentangan, serta saling menghormati dalam kemajemukan (pluralisme),  saling pengertian, perdamaian dan keadilan,
(4) belajar menjadi seseorang (learning
to be)
agar dapat mengembangkan watak/karakter, sehingga secara mandiri
dapat berpendapat dan bertanggung jawab secara pribadi makin besar.
Problematika Pendidikan Karakter
            Satu fenomena universal yang dapat diamati sekarang
adalah kesenjangan dalam pendidikan yang oleh WOSM (World Organization of the Scout Movement)  disebut defisit pendidikan (educational deficit). Pada jalur
pendidikan sekolah/formal karena masyarakat makin bersaing, maka banyak substansi
yang diajarkan di sekolah, yang artinya “sekolah-sekolah makin banyak mengajar,
tetapi makin kurang mendidik”.  Mengajar
adalah pengalihan pengetahuan, sementara mendidik  yang dimaksud adalah mengembangkan
kepribadian.

         Saat ini banyak kaum ibu ikut bekerja di luar rumah,
sehingga anak memiliki  kebebasan  di usia muda. 
Namun kebebasan yang tidak dibekali dasar iman yang kokoh, maka dapat
menjerumuskan anak-anak dalam penggunaan narkotika, judi, pornografi, serta
nilai-nilai moral yang rendah, yaitu tidak dapat menghargai proses belajar dan
bekerja keras, tidak dapat menghargai kelebihan orang lain dan melihat
kekurangan diri, tidak menghormati orang tua, serta merendahan teman sebaya yang
berakibat menjadi tawuran pelajar dsb. Konsumerisme, terkesan seolah-olah
kebahagiaan hidup adalah kepemilikan “barang-barang” dan bukan kepemilikan
“nilai-nilai” yang lebih tinggi/luhur.

          Dengan demikian pendidikan sekolah ternyata kurang
memberi saham dalam hal pembangunan karakter dan kepribadian yaitu kemandirian
untuk membekali nilai-nilai hidup.  Sementara
Pramuka saat ini makin penting karena kesenjangan pendidikan di sekolah dapat
dilengkapi dengan pendidikan luar sekolah, karena keluwesannya secara intrinsik
yang terdapat di dalamnya.  Para orang
dewasa dapat memberikan bantuan kepemimpinan dengan cara “memimpin memberi
teladan, dipimpinpun patuh sepadan” dalam Gugus Darma Pramuka.

           Problema lain adalah kurangnya para pembina (orang
dewasa) yang mau melatih/mengabdikan diri dalam pembinaan kader bangsa (kadet),
yang berkualifikasi maupun yang bersertifikasi misalnya memiliki Sertifikat
Kursus Orientasi, Kursus Mahir Dasar (KMD), Kursus Mahir Lanjutan (KML), Kursus
Pelatih Dasar (ITC), Kursus Pelatih Lanjutan (ITTC), serta kursus  tambahan seperti kursus Pamong Saka, Kursus
Instruktur Saka, Kursus Administrasi dan Manajemen serta Keuangan Kwartir, dll.
Banyak pembina yang tidak memahami cara membina karena tak mengerti metode
pendidikan (tak pernah ikut kursus). Misalnya masuk makam untuk sekedar acara
pelantikan dengan mengambil badge  atau TKU Bantara
pada nisan di malam hari.  Bahwa makam
itu suci, tempat arwah beristirahat menanti kiamat dan menunggu syafaat dan
do’a keluarga  tidak dipahami, kegiatan
susur sungai/danau tanpa pengetahuan survival
yang memadai, sehingga terjadi musibah kematian/cedera.  Termasuk acara renungan malam/jurit malam
tanpa disertai tidur/istirahat terlebih dahulu (seperti tahajjud), sehingga keesokannya peserta didik sakit.

      Sebenarnya ukuran  keberhasilan mengikuti pramuka dapat dilihat
secara fisik dengan memberikan pertanyaan sbb: 
Setelah mengikuti pramuka apakah anak muda (1) lebih bisa menjaga
kebersihan dari sebelumnya, (2) tidak merokok dan minum-minuman memabukkan, (3)
bangun lebih pagi dan tersenyum menyambut hari ini, (4) tidak lagi suka
mentraktir kawan dan berfoya-foya, (5) lebih sehat, (6) mencegah penyakit yang
akan masuk ke tubuhnya dengan kebiasaan sehat, (7) berpakaian lebih rapi, (8)
sering melakukan pengembaraan untuk menolong sesama, (9) sopan dan berbuat
kebajikan terhadap wanita tanpa pamrih, (10) menjadi kesatria: bertanggung
jawab dan berani berkorban bagi sesama, (11) ramah, terhormat, patuh, berani,
dan selalu gembira dimanapun dan kapanpun berada (12) jujur, setia, sederhana,
berani, serta tabah dan memiliki perangai baik, (13) hemat dan mandiri mencari
uang, (14) bersedia menolong jika terjadi musibah dan bencana, (15) mampu
menunjukkan prestasi dibidang yang ia gemari (tanda kecakapan khusus).  Jika ke-15 itu tidak dapat dicapai, berarti
ada yang salah dalam metode pelatihan pendidikan pramuka yang dilakukan pembina
tersebut.  Salah satu cara
menganalisis  adalah dengan menggunakan
metode SWOT yaitu melihat kelebihan dan kekurangan diri serta hambatan dan
peluang yang harus dilakukan agar dapat melatih dengan baik, sehingga peserta
didik akan menjadi “terlatih”, sesuai kurikulum pramuka (SKU, SKK, SPG).
Pesan Bapak Pandu
            Pesan terakhir Baden Powell of Gilwell yang ditulis 8 Januari
1941, “Hidupku sangat bahagia, harapanku mudah-mudahan kamu sekalian juga
mengenyam kebahagiaan  (hayya ‘alal falah) dalam hidupmu seperti
aku. Aku yakin, Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia untuk hidup
berbahagia dan bergembira.  Kebahagiaan
tidak timbul dari kekayaan, jabatan yang menguntungkan atau kesenangan diri
sendiri.  Jalan menuju kebahagiaan ialah
membuat dirimu l
ahir batin sehat dan kuat pada waktu kamu
masih kanak-kanak, sehingga dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati
hidup, jika kelak dewasa. Usaha hidup bersama alam akan menimbulkan kesadaran
di hatimu betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang dicipta oleh Tuhan di
dunia agar kamu dapat menikmatinya. Lebih baik melihat kebaikan pada sesuatu
daripada mencari kejelekannya.  
         Jalan
nyata menuju kebahagiaan ialah bahagiakanlah orang lain.  Berupayalah agar ketika kamu meninggalkan
dunia ini dalam keadaan lebih baik daripada ketika kamu datang.  Bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka
kamu meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan umurmu, tetapi telah
kamu gunakan dengan sebaik-baiknya. Masukkan keyakinan ini pada janji pandumu (Satyaku
kudarmakan, darmaku kubaktikan), meskipun kamu bukan kanak-kanak lagi, dan
Tuhan berkenan mengaruniai perlindungan padamu sesuai usahamu (amal ibadahmu)”.
Pramuka
itu Sedia !
——-

Demikianlah artikel yang telah ditulis oleh
almarhum, menunjukkan analisa beliau yang mendalam tentang pendidikan karakter
bagi generasi muda. Selamat Jalan Kak Rodi, semoga kami dapat mengambil teladan
dari semangat dan dedikasimu dalam berbakti, semoga amal ibadahmu diterima oleh
Allah SWT, menjadi pemupuk tumbuhnya generasi penerus bangsa yang unggul dan
berbudi. Aamiin.. Yaa Rabbal ‘Aalamiin..




SMKN 1 Kademangan

Jl. Sadewo No. 01 Kademangan Blitar
Kode Pos 66161 Jawa Timur
Telp. /Fax (0342) 815208 email: smkkademangan@yahoo.co.id